PERTEMUAN 2
Kalimat Efektif, SPOK, Fonem, dan
Morfem
- Kalimat Efektif
Pengertian
Kalimat Efektif
Kalimat efektif
dapat diartikan sebagai susunan kata yang mengikuti kaidah kebahasaan secara
baik dan benar. Tentu saja karena kita berbicara tentang bahasa indonesia,
kaidah yang menjadi patokan kalimat efektif dalam bahasan ini adalah kaidah
bahasa Indonesia menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).
Syarat Kalimat
Efektif
Pada dasarnya, ada
empat syarat utama sebuah kalimat dapat dikatakan efektif atau tidak.
1. Sesuai EYD
Sebuah kalimat efektif haruslah menggunakan
ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku pun mesti menjadi perhatian agar
tidak sampai kata yang kamu tulis ternyata tidak tepat ejaannya.
2. Sistematis
Sebuah kalimat paling sederhana adalah yang
memiliki susunan subjek dan predikat, kemudian ditambahkan dengan objek,
pelengkap, hingga keterangan. Sebisa mungkin guna mengefektifkan kalimat,
buatlah kalimat yang urutannya tidak memusingkan. Jika memang tidak ada
penegasan, subjek dan predikat diharapkan selalu berada di awal kalimat.
3. Tidak Boros dan Bertele-tele
Jangan sampai kalimat yang kalian buat
terlalu banyak menghambur-hamburkan kata dan terkesan bertele-tele. Pastikan
susunan kalimat yang kalian rumuskan pasti dan ringkas agar orang yang
membacanya mudah menangkah gagasan yang kalian tuangkan.
4. Tidak Ambigu
Syarat kalimat efektif yang terakhir, kalimat
efektif menjadi sangat penting untuk menghindari pembaca dari multiftafsir.
Dengan susunan kata yang ringkas, sistemastis, dan sesuai kaidah kebahasaan;
pembaca tidak akan kesulitan mengartikan ide dari kalimat kalian sehingga tidak
ada kesan ambigu.
Ciri-ciri Kalimat Efektif
Untuk membuat kalimat efektif tidaklah sulit
asalkan sudah memahami ciri-ciri suatu kalimat dikatakan efektif. Berikut ini
adalah 5 ciri-ciri sehingga suatu kalimat dapat kita katakan efektif.
1. Kesepadanan Struktur
Hal pertama yang
harus diperhatikan adalah kelengkapan struktur dan penggunaannya. Inilah yang
dimaksud dengan kesepadanan struktur. Ada beberapa hal yang menyangkut
ciri-ciri yang satu ini.
a. Pastikan kalimat yang dibuat
mengandung unsur klausa minimal yang lengkap, yakni subjek dan predikat.
b. Jangan taruh kata depan (preposisi)
di depan subjek karena akan mengaburkan pelaku di dalam kalimat tersebut.
Contoh kalimat
efektif dan tidak efektif:
Bagi semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)
Semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)
Bagi semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)
Semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)
c. Hati-hati pada penggunaan konjungsi yang di depan predikat karena membuatnya menjadi perluasan dari
subjek.
Contoh:
Dia yang pergi meninggalkan saya. (tidak efektif)
Dia pergi meninggalkan saya. (efektif)
Dia yang pergi meninggalkan saya. (tidak efektif)
Dia pergi meninggalkan saya. (efektif)
d. Tidak bersubjek ganda, bukan berarti
subjek tidak boleh lebih dari satu, namun lebih ke arah menggabungkan subjek
yang sama.
Contoh:
Adik demam sehingga adik tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)
Adik demam sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)
Adik demam sehingga adik tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)
Adik demam sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)
2. Kehematan Kata
Karena salah satu
syarat kalimat efektif adalah ringkas dan tidak bertele-tele, kalian tidak
boleh menyusun kata-kata yang bermakna sama di dalam sebuah kalimat. Ada dua
hal yang memungkinkan kalimat membuat kalimat yang boros sehingga tidak
efektif. Yang pertama menyangkut kata jamak dan yang kedua mengenai kata-kata
bersinonim. Untuk menghindari hal tersebut, berikut ini contoh mengenai
kesalahan dalam kata jamak dan sinonim yang menghasilkan kalimat tidak efektif.
Contoh Kata Jamak:
Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (tidak efektif)
Siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (efektif)
Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (tidak efektif)
Siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (efektif)
Ketidakefektifan
terjadi karena kata para merujuk pada jumlah jamak,
sementara siswa-siswi juga mengarah pada jumlah siswa yang lebih dari satu.
Jadi, hilangkan salah satu kata yang merujuk pada hal jamak tersebut.
Contoh Kata
Sinonim:
Ia masuk ke dalam ruang kelas. (tidak efektif)
Ia masuk ruang kelas.
Ia masuk ke dalam ruang kelas. (tidak efektif)
Ia masuk ruang kelas.
Ketidakefektifan
terjadi karena kata masuk dan frasa ke dalam sama-sama menunjukkan arti yang sama. Namun,
kata masuk lebih tepat membentuk kalimat efektif karena
sifatnya yang merupakan kata kerja dan dapat menjadi predikat. Sementara itu,
jika menggunakan ke dalam dan menghilangkan kata masuk—sehingga menjadi ia ke dalam ruang kelas—kalimat
tersebut akan kehilangan predikatnya dan tidak dapat dikatakan kalimat efektif
menurut prinsip kesepadanan struktur.
3. Kesejajaran Bentuk
Ciri-ciri yang
satu ini menyangkut soal imbuhan dalam kata-kata yang ada di kalimat, sesuai
kedudukannya pada kalimat itu. Pada intinya, kalimat efektif haruslah
berimbuhan pararel dan konsisten. Jika pada sebuah fungsi digunakan imbuhan me-, selanjutnya imbuhan yang sama digunakan pada
fungsi yang sama.
Contoh:
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)
4. Ketegasan Makna
Tidak selamanya
subjek harus diletakkan di awal kalimat, namun memang peletakan subjek
seharusnya selalu mendahului predikat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus
tertentu, kalian bisa saja meletakkan keterangan di awal kalimat untuk memberi
efek penegasan. Ini agar pembaca dapat langsung mengerti gagasan utama dari
kalimat tersebut. Penegasan kalimat seperti ini biasanya dijumpai pada jenis
kalimat perintah, larangan, ataupun anjuran yang umumnya diikuti partikel lah atau pun.
Contoh:
Kamu sapulah lantai rumah agar bersih! (tidak efektif)
Sapulah lantai rumahmu agar bersih! (efektif)
Kamu sapulah lantai rumah agar bersih! (tidak efektif)
Sapulah lantai rumahmu agar bersih! (efektif)
5. Kelogisan Kalimat
Ciri-ciri kalimat
efektif terakhir yang amat krusial menyangkut kelogisan kalimat yang kalian
buat. Kelogisan berperan penting untuk menghindari kesan ambigu pada kalimat. Karena
itu, buatlah kalimat dengan ide yang mudah dimengerti dan masuk akal agar
pembaca dapat dengan mudah pula mengerti maksud dari kalimat tersebut.
Contoh:
Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kamu persilakan. (tidak efektif)
Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya sekarang. (efektif)
Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kamu persilakan. (tidak efektif)
Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya sekarang. (efektif)
- SPOK
1.
Ayah membajak sawah menggunakan traktor.
2.
Ibu membawa makan siang ke sawah.
3.
Pak Tono menuntut Andi ke pengadilan.
4.
Kami menunggu keputusan pengadilan hingga malam hari.
5.
Presiden melantik Gubernur Yogya di Jakarta.
6.
Ibu guru memberi tugas rumah kepada para siswa.
7.
Aku memperhatikan penjelasannya dengan seksama.
8.
Ratna meneliti hasil ulangan siswa dengan teliti.
9.
Ayah mengantarkan ibu ke rumah sakit.
10. Mereka
membakar gubug remang dengan obor.
- Fonem
1. Pengertian Fonem
Fonem adalah satuan
bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Bunyi /a/ dan /i/ dalam bahasa
Indonesia adalah fonem, karena keduanya membedakan arti. Misalnya dalam
pasangan dara dan dari.
Fonem
ialah unit bunyi yang terkecil yang membedakan makna. Perbedaan makna ini dapat
dilihat pada pasangan minimal atau pasangan terkecil perkataan. Misalnya pedang
dengan petang. Dalam pasangan minimal perkataan pedang dengan
petang itu terdapat bunyi yang berbeda (distingtif), yaitu bunyi d
dan bunyi t. Oleh sebab perkataan pedang hampir sama, kecuali
bunyi d dan bunyi t, maka dikatakan bahwa bunyi d dan
bunyi t adalah bunyi yang distingtif yang membedakan makna. Oleh
karena itu, bunyi d dan bunyi t adalah bertaraf fonem yang
berbeda dan bunyi fonem ini diletakkan dalam kurungan fonem, yaitu / d / dan /
t /.
Pasangan
minimal ialah pasangan terkecil perkataan, yaitu pasangan perkataan yang hampir
sama dari segi sebutan dan juga cara menghasilkan bunyi perkataan tersebut
tetapi masih terdapat perbedaan kecil pada bunyi (fonem) tertentu yang
membedakan makna antara perkataan tersebut.
Fonem-fonem diucapkan
secara berangkai dan berkelompok di dalam pemakaian bahasa. Artinya, setiap
fonem diucapkan secara terpisah-pisah. Kelompok fonem yang merupakan unsur
sebuah kata dasar atau morferm bahasa Indonesia disebut “suku”. Dengan kata
lain, struktur suku ditentukan oleh hubungan sintagmatis di antara
fonem-fonemnya.
Perhatikan tabel
berikut :
|
Kata dasar
|
ia
|
Tiba
|
Pindah
|
prisma
|
|
suku
|
i a
|
Ti ba
|
Pin dah
|
Pris ma
|
|
fonem
|
/i/a/
|
/t/i/b/a/
|
/p/i/n/d/a/h/
|
/p/r/i/s/m/a/
|
Fonologi berbeda dari
fonetik karena fonetik mempelajari bunyi-bunyi tanpa membatasi perhatiannya
pada bahasa tertentu umpamanya bahasa Indonesia atau Inggris. Fonologi bertugas
mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi
kata-kata tertentu.
2. Fonem Suprasegmental
Fonem
suprasegmental yang juga disebut fonem suprapenggalan ialah ciri atau sifat
bunyi yang menindihi atau menumpangi suatu fonem. Maksudnya, ciri
suprasegmental hadir bersama-sama fonem penggalan dengan cara menumpangi bunyi
segmental. Fonem suprasegmental ini bukannya bunyi segmental atau bunyi
penggalan, tetapi ciri yang hadir bersama dengan cara menindihi atau menumpangi
bunyi penggalan. Fonem suprasegmental tersebut terdiri
dari:
a) Tekanan
Tekanan
ialah ciri lemah atau kerasnya suara penyebutan sesuatu suku kata. Tekanan
biasanya berlaku pada suku kata dalam perkataan.
b) Kepanjangan
Kepanjangan
atau juga disebut panjang pendek bunyi merupakan ciri khusus yang terdapat pada
perkataan dalam bahasa-bahasa tertentu.
c) Jeda
Jeda
yang juga disebut persendian ialah ciri atau unsur hentian (senyap) dalam
ujaran sebagai tanda memisahkan unsure linguistik, iaitu perkataan, ayat atau
rangkai kata.
d) Tona
Tona
merupakan naik atau turunnya suara dalam pengucapan perkataan.
e) Intonasi
Intonasi
ialah turun naik nada suara dalam pengucapan ayat atau frasa. Intonasi juga
disebut sebagai lagu bahasa.
3. Perubahan Fonem
Apabila
kita menyinggung perubahan fonem dalam bidang proses morfofonemik dalam bahasa
Indonesia, maka ada dua hal yang perlu mendapat perhatian,
yaitu :
a)
Perubahan fonem /N/
1.
Fonem /N/ pada morfem meN- dan morfem peN- berubah menjadi fonem /m/ kalau
dasar kata yang mengikutinya berawal dengan /b,f,p/. Misalnya :
meN-
+ pilih
è memilih
meN-
+
foto
è memfoto
peN-
+
bela
è pembela
2.
Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi fonem /n/ kalau dasar kata
yang mengikutinya berawal dengan fonem /d,s,t/. Perlu kita catat di sini bahwa
fonem /s/ hanya khusus bagi sejumlah dasar kata yang berasal dari bahasa asing.
Apabila kita mencoba berbicara bahasa atau dialeg asing, kemungkinan kita akan
menggganti fonem-fonemnya dengan fonem-fonem yang paling mirip dalam bahasa
atau dialeg kita sendiri.
Misalnya :
meN-
+
daki
è mendaki
meN-
+
tahan
è menahan
meN-
+
survei
è mensurvei
3.
Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /n/ apabila kata dasar yang
mengikutinya berawal dengan /c,j,s/.
Misalnya :
meN-
+
cabut
è mencabut
peN-
+
jaga
è penjaga
peN-
+
seret
è penyeret
4.
Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /ng/ apabila dasar kata yang
mengikutinya berfonem /g,h,k,x/, dan vokal.
Misalnya
:
meN-
+
ganti
è mengganti
peN-
+
halang
è penghalang
meN-
+
kecoh
è mengecoh
meN-
+ angkat
è mengangkat
peN-
+
edar
è pengedar
b)
Perubahan Fonem /r/
Fonem
/r/ pada morfem {ber} dan morfem {per} berubah menjadi fonem /l/ sebagai akibat
pertemuan morfem tersebut dengan kata dasar yang berupa morfem {ajar}. Contoh
ber-
+
ajar
è belajar
per-
+
ajar
è pelajar
- Morfem
1. Pengertian Morfem
Morfem
adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang
tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya {ter}, {di}
dan {pensil}.
2. Pengenalan Morfem
Ø Prinsip
1 Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik
dan arti leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan suatu morfem.
Ø Prinsip
2 Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik
yang berbeda merupakan suatu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti
leksikal atau arti gramatik yang sama, asal perbedaan itu dapat dijelaskan
secara fonologik.
Ø Prinsip
3 Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik
yang berbeda sekalipun perbedaannya tidak dapat tidak dapat dijelaskan secara
fonologik, masih dapat dianggap sebagai suatu morfem apabila mempunyai arti
leksikal atau arti gramatik yang sama, dan mempunyai distribusi yang
komplementer.
Ø Prinsip
4 Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan
berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu adalah morfem, ialah
yang disebut morfem zero.
Ø Prinsip
5 Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik
yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang
berbeda.
Ø Prinsip
6 Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan
morfem.
ü
Contoh Prinsip 1 :
a) Membeli rumah, rumah baru,
menjaga rumah, berumah, satu rumah.
Dari
contoh-contoh itu dapat kita lihat bahwa satuan rumah merupakan satu
morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti leksikal
yang sama.
b) Menulis, ditulis, menuliskan,
dituliskan, menulisi, ditulisi, tertulis, tertuliskan, tertulisi, tulisan,
penulis, penulisan, karya tulis.
Dari
contoh-contoh tersebut dapat kita lihat bahwa satuan tulis merupakan
suatu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti
leksikal yang sama.
ü
Contoh Prinsip 2 :
Menjahit, membeli, menyalin, menggendong, mengecat dan melamar. Dari contoh-contoh tersebut nyata bahwa satuan-satuan
men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me-; mempunyai arti gramatik
yang sama, yaitu menyatakan tindakan aktif: tetapi struktur fonologiknya
jelas jelas berbeda.
Satuan-satuan
men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me- adalah alomorf dari morfem
meN-; oleh karena itu semua satuan itu merupakan satu morfem.
ü
Contoh Prinsip 3:
beralih,
beradu
berbaring,
berbicara
bersua,
berjumpa
bertemu,
bekerja
belajar,
berjuang
bersandar,
beradu
Dari contoh-contoh
tersebut terdapat satuan ber-, be-, dan bel-.
Berdasarkan Prinsip 2, jelas bahwa ber-, dan be-,
merupakan satu morfem, karena perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan
secara fonologik. Tetapi bagaimana halnya dengan bel- yang (hanya)
terdapat pada belajar? Walaupun bel- mempunyai struktur fonologik
yangberbeda, dan perbedaanya itu tidak dapat dijelaskan secara fonologik, toh
mempunyai arti gramatik yang sama dan mempunyai distribusi komplementer dengan
morfem ber-.
Dengan kata lain : bel- merupakan alomorf morfem ber-; oleh
karena itu maka satuan bel- dapat dianggap sebagai satu morfem.
Perlu
dicatat bahwa morfem bel- ini termasuk morfem yang produktif dalam
bahasa Indonesia.
ü
Contoh Prinsip 4:
(1)
Ibu
menggoreng
ikan.
(2)
Ibu
menyapu
halaman.
(3)
Ibu
menjahit
baju.
(4)
Ibu
membeli
telur.
(5)
Ibu
minum
teh.
(6)
Ibu
makan
pecal.
(7)
Ibu
masak
rendang.
Ketujuh
kalimat di atas berstruktur S (ubjek) P (redikat) O (obyek). Predikatnya berupa
kata verbal yang transitif. Yang pada kalimat (1), (2), (3), (4) ditandai oleh
adanya meN-, sedangkan pada kalimat (5), (6), (7), kata verbal transitif
itu ditandai dengan kekosongan atau tidak adanya meN-. Itulah
yang disebut morfem zero.
ü
Contoh Prinsip 5:
a)
(1) Ia menanam kembang.
(2)
Bunga itu telah kembang.
Pada
(1) kembang ‘bunga’ dan pada (2) kembang ‘mekar’; oleh karena itu
kedua kata kembang itu merupakan morfem yang berbeda walaupun mempunyai
struktur fonologik yang sama. Kenapa? Karena arti leksikalnya beda.
b)
(1) Ayah sedang tidur.
(2) Tidur
ayah sangat nyenyak.
Kata tidur
pada (1) dan (2) mempunyai arti leksikal yang berhubungan, dan mempunyai
distribusi Yang berbeda. Kedua kata tidur itu merupakan satu morfem.
ü
Contoh Prinsip 6:
a)
Berharap, harapan
Berharap
terdiri dari ber- dan harap;
serta harapan terdiri dari harap dan –an. Dengan demikian
maka ber-, harap, dan –an masing-masing merupakan morfem
sendiri-sendiri.
a.
Mendatangkan, didatangkan, mendatangi, pendatang, kedatangan, datang.
Dari contoh-contoh diatas :
Mendatangkan
terdiri dari tiga morfem yaitu meN-,
datang, -kan
Didatangkan
terdiri dari tiga morfem yaitu di-,
datang, -kan
Mendatangi
terdiri dari tiga morfem yaitu meN-,
datang, -i
Pendatang
terdiri dari dua morfem yaitu peN-,
datang
Kedatangan
terdiri dari dua morfem yaitu ke-an,
datang
Maka
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa meN-, di-, peN-, datang, -kan, -i, dan
ke-an merupakan morfem sendiri-sendiri.
3. Proses Morfologis
a) Pengertian Proses Morfologis
Proses
Morfologis adalah peristiwa penggabungan morfem satu dengan morfem yang lain
menjadi kata. Misalnya, kata menulis terdiri atas morfem {meN-} dan
{tulis}. Penggabungan morfem {meN-} dan {tulis} menjadi kata menulis itulah
yang disebut proses morfologis.
b) Ciri Suatu Kata yang Mengalami Proses
Morfologis
Morfem-morfem
yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda beda fungsinya. Ada yang
berfungsi sebagai tempat penggabungan dan berfungsi sebagai penggabung.
Berdasarkan contoh di atas, morfem {tulis} berfungsi sebagai tempat
penggabungan, sedangkan morfem (meN-} berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang
sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.
Bentuk
dasar dapat berupa pokok kata dilihat dari wujudnya, bahkan berupa kelompok
kata. Misalnya, bentuk dasar kata menemukan, berjuang, dan
perhubungan adalah pokok kata temu, juang dan hubung.
Ciri
lain bahwa suatu kata dikatakan mengalami proses morfologis ialah penggabungan
atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti. Contohnya bentuk
dasar cangkul setelah digabung morfem {meN-}, sehingga menjadi kata mencangkul,
artinya menjadi ‘melakukan pekerjaan dengan alat cangkul’.
c) Macam Proses Morfologis
1)
Pembentukan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar. Misalnya
kata menulis dan pembangunan. Kata menulis terbentuk dari bentuk
dasar tulis dan morfem imbuhan {meN-}, kata pembangunan terbentuk dari bentuk
dasar bangun dan morfem imbuhan {peN-an}.
2)
Pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar.
Misalnya murid-murid,
mencari-cari dan memukul-mukul yang terbentuk dari bentuk dasar murid, mencari
dan memukul dengan morfem {ulang}.
3) Pembentukan kata dengan menggabungkan
dua atau lebih bentuk dasar. Misalnya meja hijau terbentuk dari bentuk
dasar meja dan hijau.
C. PENJENISAN KATA
Kata
ialah kumpulan daripada bunyi ujaran yang mengandung arti. Kata dinyatakan
sebagai susunan huruf-huruf abjad yang mengandung arti dan sangat jelas. Contoh: ibu, mobil, ambil dan sedih.
Jenis
kata ialah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi dan perilaku
sintaksisnya. Dalam tatabahasa tradisional, jenis kata ini biasanya dibedakan
atas sepuluh macam. Pembagian yang sepuluh ini sepenuhnya berkiblat pada
pendapat Aristoteles yang berdasarkan hasil penelitiannya terhadap
bahasa-bahasa Barat. Sepuluh jenis kata itu adalah:
1.
Kata Benda (Nomina)
Adalah
nama dari semua benda dan segala yang dibendakan.
Misalnya:
Tuhan, angin, meja, rumah, batu, mesin dan lain-lainnya.
2.
Kata Kerja (Verba)
Adalah
semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku.
Misalnya:
mengetik, mengutip, meraba, mandi, makan dan lain-lainnya.
3.
Kata Sifat (Adjektiva)
Adalah kata yang
menyatakan sifat atau hal keadaan sebuah benda/sesuatu.
Misalnya:
baru, tebal, tinggi, rendah, baik, buruk, mahal, dan sebagainya.
4.
Kata Ganti (Pronomina)
Adalah kata yang
dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan.
Misalnya:
ini, itu, ia, mereka, sesuatu, masing-masing.
5.
Kata Keterangan (Adverbia)
Adalah kata yang
memberi keterangan tentang kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata
bilangan, atau seluruh kalimat.
Misalnya:
pelan-pelan, cepat, kemarin, tadi.
6.
Kata Bilangan (Numeralia)
Adalah kata yang
menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan atau urutan tempat nama-nama
benda.
Misalnya:
seribu, saratus, berdua, bertiga, bebarapa, banyak.
7.
Kata Penghubung (Konjungsi)
Adalah kata yang
menghubungkan kata-kata, bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat-kalimat.
Misalnya:
dan, lalu, meskipun, sungguhpun, ketika, jika.
8.
Kata Depan (Preposisi)
Adalah
kata yang merangkaikan kata atau bagian kalimat.
Misalnya:
di, ke, dari, daripada, kepada.
9.
Kata Sandang (Artikel)
Adalah kata yang
berfungsi menentukan kata benda dan membedakan suatu kata.
Misalnya:
si, sang, hyang.
10.
Kata Seru (Interjeksi)
Adalah kata (yang
sebenarnya sudah menjadi kalimat) untuk mengungkapkan perasaan.
Misalnya:
aduh, wah, eh, oh, astaga.
Sumber : www.studiobelajar.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar