Kamis, 08 November 2018

Kalimat Efektif, SPOK, Fonem, dan Morfem

PERTEMUAN 2
Kalimat Efektif, SPOK, Fonem, dan Morfem
  • Kalimat Efektif
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif dapat diartikan sebagai susunan kata yang mengikuti kaidah kebahasaan secara baik dan benar. Tentu saja karena kita berbicara tentang bahasa indonesia, kaidah yang menjadi patokan kalimat efektif dalam bahasan ini adalah kaidah bahasa Indonesia menurut ejaan yang disempurnakan (EYD).
Syarat Kalimat Efektif
Pada dasarnya, ada empat syarat utama sebuah kalimat dapat dikatakan efektif atau tidak.

1. Sesuai EYD

Sebuah kalimat efektif haruslah menggunakan ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku pun mesti menjadi perhatian agar tidak sampai kata yang kamu tulis ternyata tidak tepat ejaannya.


2. Sistematis

Sebuah kalimat paling sederhana adalah yang memiliki susunan subjek dan predikat, kemudian ditambahkan dengan objek, pelengkap, hingga keterangan. Sebisa mungkin guna mengefektifkan kalimat, buatlah kalimat yang urutannya tidak memusingkan. Jika memang tidak ada penegasan, subjek dan predikat diharapkan selalu berada di awal kalimat.

 

3. Tidak Boros dan Bertele-tele

Jangan sampai kalimat yang kalian buat terlalu banyak menghambur-hamburkan kata dan terkesan bertele-tele. Pastikan susunan kalimat yang kalian rumuskan pasti dan ringkas agar orang yang membacanya mudah menangkah gagasan yang kalian tuangkan.


4. Tidak Ambigu

Syarat kalimat efektif yang terakhir, kalimat efektif menjadi sangat penting untuk menghindari pembaca dari multiftafsir. Dengan susunan kata yang ringkas, sistemastis, dan sesuai kaidah kebahasaan; pembaca tidak akan kesulitan mengartikan ide dari kalimat kalian sehingga tidak ada kesan ambigu.

 

Ciri-ciri Kalimat Efektif

Untuk membuat kalimat efektif tidaklah sulit asalkan sudah memahami ciri-ciri suatu kalimat dikatakan efektif. Berikut ini adalah 5 ciri-ciri sehingga suatu kalimat dapat kita katakan efektif.


1. Kesepadanan Struktur

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kelengkapan struktur dan penggunaannya. Inilah yang dimaksud dengan kesepadanan struktur. Ada beberapa hal yang menyangkut ciri-ciri yang satu ini.

a. Pastikan kalimat yang dibuat mengandung unsur klausa minimal yang lengkap, yakni subjek dan predikat.

b. Jangan taruh kata depan (preposisi) di depan subjek karena akan mengaburkan pelaku di dalam kalimat tersebut.

Contoh kalimat efektif dan tidak efektif:
Bagi semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)
Semua peserta diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)

c. Hati-hati pada penggunaan konjungsi yang di depan predikat karena membuatnya menjadi perluasan dari subjek.

Contoh:
Dia yang pergi meninggalkan saya. (tidak efektif)
Dia pergi meninggalkan saya. (efektif)

d. Tidak bersubjek ganda, bukan berarti subjek tidak boleh lebih dari satu, namun lebih ke arah menggabungkan subjek yang sama.

Contoh:
Adik demam sehingga adik tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)
Adik demam sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)

2. Kehematan Kata

Karena salah satu syarat kalimat efektif adalah ringkas dan tidak bertele-tele, kalian tidak boleh menyusun kata-kata yang bermakna sama di dalam sebuah kalimat. Ada dua hal yang memungkinkan kalimat membuat kalimat yang boros sehingga tidak efektif. Yang pertama menyangkut kata jamak dan yang kedua mengenai kata-kata bersinonim. Untuk menghindari hal tersebut, berikut ini contoh mengenai kesalahan dalam kata jamak dan sinonim yang menghasilkan kalimat tidak efektif.
Contoh Kata Jamak:
Para siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (tidak efektif)
Siswa-siswi sedang mengerjakan soal ujian masuk perguruan tinggi. (efektif)
Ketidakefektifan terjadi karena kata para merujuk pada jumlah jamak, sementara siswa-siswi juga mengarah pada jumlah siswa yang lebih dari satu. Jadi, hilangkan salah satu kata yang merujuk pada hal jamak tersebut.
Contoh Kata Sinonim:
Ia masuk ke dalam ruang kelas. (tidak efektif)
Ia masuk ruang kelas.
Ketidakefektifan terjadi karena kata masuk dan frasa ke dalam sama-sama menunjukkan arti yang sama. Namun, kata masuk lebih tepat membentuk kalimat efektif karena sifatnya yang merupakan kata kerja dan dapat menjadi predikat. Sementara itu, jika menggunakan ke dalam dan menghilangkan kata masuk—sehingga menjadi ia ke dalam ruang kelas—kalimat tersebut akan kehilangan predikatnya dan tidak dapat dikatakan kalimat efektif menurut prinsip kesepadanan struktur.

3. Kesejajaran Bentuk

Ciri-ciri yang satu ini menyangkut soal imbuhan dalam kata-kata yang ada di kalimat, sesuai kedudukannya pada kalimat itu. Pada intinya, kalimat efektif haruslah berimbuhan pararel dan konsisten. Jika pada sebuah fungsi digunakan imbuhan me-, selanjutnya imbuhan yang sama digunakan pada fungsi yang sama.
Contoh:
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)
Hal yang mesti diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)

4. Ketegasan Makna

Tidak selamanya subjek harus diletakkan di awal kalimat, namun memang peletakan subjek seharusnya selalu mendahului predikat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, kalian bisa saja meletakkan keterangan di awal kalimat untuk memberi efek penegasan. Ini agar pembaca dapat langsung mengerti gagasan utama dari kalimat tersebut. Penegasan kalimat seperti ini biasanya dijumpai pada jenis kalimat perintah, larangan, ataupun anjuran yang umumnya diikuti partikel lah atau pun.
Contoh:
Kamu sapulah lantai rumah agar bersih! (tidak efektif)
Sapulah lantai rumahmu agar bersih! (efektif)

5. Kelogisan Kalimat

Ciri-ciri kalimat efektif terakhir yang amat krusial menyangkut kelogisan kalimat yang kalian buat. Kelogisan berperan penting untuk menghindari kesan ambigu pada kalimat. Karena itu, buatlah kalimat dengan ide yang mudah dimengerti dan masuk akal agar pembaca dapat dengan mudah pula mengerti maksud dari kalimat tersebut.
Contoh:
Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kamu persilakan. (tidak efektif)
Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya sekarang. (efektif)
  • SPOK
Kalimat berpola SPOK adalah adalah salah satu jenis kalimat lengkap karena mengandung unsur subjek (S) dan predikat (P). Kalimat berpola SPOK adalah jenis kalimat sempurna yang lengkap. Berikut adalah contoh kalimat berpola SPOK :
1.      Ayah membajak sawah menggunakan traktor.
2.      Ibu membawa makan siang ke sawah.
3.      Pak Tono menuntut Andi ke pengadilan.
4.      Kami menunggu keputusan pengadilan hingga malam hari.
5.      Presiden melantik Gubernur Yogya di Jakarta.
6.      Ibu guru memberi tugas rumah kepada para siswa.
7.      Aku memperhatikan penjelasannya dengan seksama.
8.      Ratna meneliti hasil ulangan siswa dengan teliti.
9.      Ayah mengantarkan ibu ke rumah sakit.
10.  Mereka membakar gubug remang dengan obor.

  • Fonem
1.   Pengertian Fonem
Fonem adalah satuan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Bunyi /a/ dan /i/ dalam bahasa Indonesia adalah fonem, karena keduanya membedakan arti. Misalnya dalam pasangan dara dan dari.
Fonem ialah unit bunyi yang terkecil yang membedakan makna. Perbedaan makna ini dapat dilihat pada pasangan minimal atau pasangan terkecil perkataan. Misalnya pedang dengan petang. Dalam pasangan minimal perkataan pedang dengan petang itu terdapat bunyi yang berbeda (distingtif), yaitu bunyi d dan bunyi t. Oleh sebab perkataan pedang hampir sama, kecuali bunyi d dan bunyi t, maka dikatakan bahwa bunyi d dan bunyi t adalah bunyi yang distingtif yang membedakan makna. Oleh karena itu, bunyi d dan bunyi t adalah bertaraf fonem yang berbeda dan bunyi fonem ini diletakkan dalam kurungan fonem, yaitu / d / dan / t /.
Pasangan minimal ialah pasangan terkecil perkataan, yaitu pasangan perkataan yang hampir sama dari segi sebutan dan juga cara menghasilkan bunyi perkataan tersebut tetapi masih terdapat perbedaan kecil pada bunyi (fonem) tertentu yang membedakan makna antara perkataan tersebut.
Fonem-fonem diucapkan secara berangkai dan berkelompok di dalam pemakaian bahasa. Artinya, setiap fonem diucapkan secara terpisah-pisah. Kelompok fonem yang merupakan unsur sebuah kata dasar atau morferm bahasa Indonesia disebut “suku”. Dengan kata lain, struktur suku ditentukan oleh hubungan sintagmatis di antara fonem-fonemnya.
Perhatikan tabel berikut   :
Kata dasar
ia
Tiba
Pindah
prisma
suku
i a
Ti  ba
Pin dah
Pris ma
fonem
/i/a/
/t/i/b/a/
/p/i/n/d/a/h/
/p/r/i/s/m/a/

Fonologi berbeda dari fonetik karena fonetik mempelajari bunyi-bunyi tanpa membatasi perhatiannya pada bahasa tertentu umpamanya bahasa Indonesia atau Inggris. Fonologi bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata-kata tertentu.
2.   Fonem Suprasegmental
Fonem suprasegmental yang juga disebut fonem suprapenggalan ialah ciri atau sifat bunyi yang menindihi atau menumpangi suatu fonem. Maksudnya, ciri suprasegmental hadir bersama-sama fonem penggalan dengan cara menumpangi bunyi segmental. Fonem suprasegmental ini bukannya bunyi segmental atau bunyi penggalan, tetapi ciri yang hadir bersama dengan cara menindihi atau menumpangi bunyi penggalan. Fonem suprasegmental tersebut terdiri dari:
a)  Tekanan
Tekanan ialah ciri lemah atau kerasnya suara penyebutan sesuatu suku kata. Tekanan biasanya berlaku pada suku kata dalam perkataan.
b)  Kepanjangan
Kepanjangan atau juga disebut panjang pendek bunyi merupakan ciri khusus yang terdapat pada perkataan dalam bahasa-bahasa tertentu.
c)  Jeda
Jeda yang juga disebut persendian ialah ciri atau unsur hentian (senyap) dalam ujaran sebagai tanda memisahkan unsure linguistik, iaitu perkataan, ayat atau rangkai kata.
d)  Tona
Tona merupakan naik atau turunnya suara dalam pengucapan perkataan.
e)  Intonasi
Intonasi ialah turun naik nada suara dalam pengucapan ayat atau frasa. Intonasi juga disebut sebagai lagu bahasa.
3.    Perubahan Fonem
Apabila kita menyinggung perubahan fonem dalam bidang proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia, maka ada dua hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
a)    Perubahan fonem /N/
1.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan morfem peN- berubah menjadi fonem /m/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan /b,f,p/. Misalnya :
meN-               +          pilih                  è        memilih
meN-               +          foto                  è        memfoto
peN-                +          bela                 è        pembela
2.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi fonem /n/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan fonem /d,s,t/. Perlu kita catat di sini bahwa fonem /s/ hanya khusus bagi sejumlah dasar kata yang berasal dari bahasa asing. Apabila kita mencoba berbicara bahasa atau dialeg asing, kemungkinan kita akan menggganti fonem-fonemnya dengan fonem-fonem yang paling mirip dalam bahasa atau dialeg kita sendiri.
Misalnya :
meN-               +          daki                 è        mendaki
meN-               +          tahan               è        menahan
meN-               +          survei              è        mensurvei
3.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /n/ apabila kata dasar yang mengikutinya berawal dengan /c,j,s/.
Misalnya :
meN-               +          cabut               è        mencabut
peN-                +          jaga                 è        penjaga
peN-                +          seret                è        penyeret
4.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /ng/ apabila dasar kata yang mengikutinya berfonem /g,h,k,x/, dan vokal.
Misalnya :
meN-               +          ganti                è        mengganti
peN-                +          halang             è        penghalang
meN-               +          kecoh              è        mengecoh
meN-               +          angkat             è        mengangkat
peN-                +          edar                 è        pengedar
b)    Perubahan Fonem /r/
Fonem /r/ pada morfem {ber} dan morfem {per} berubah menjadi fonem /l/ sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan kata dasar yang berupa morfem {ajar}. Contoh
ber-            +          ajar                  è        belajar
per-            +          ajar                  è        pelajar


  • Morfem
1.    Pengertian Morfem
Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya {ter}, {di} dan {pensil}.
2.    Pengenalan Morfem
            Prof. Ramlan mengemukakan enam perinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem.
Ø Prinsip 1     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan suatu morfem.
Ø Prinsip 2     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda merupakan suatu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, asal perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologik.
Ø Prinsip 3     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda sekalipun perbedaannya tidak dapat tidak dapat dijelaskan secara fonologik, masih dapat dianggap sebagai suatu morfem apabila mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Ø Prinsip 4     Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu adalah morfem, ialah yang disebut morfem zero.
Ø Prinsip 5     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda.
Ø Prinsip 6     Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem.
ü  Contoh Prinsip 1 :
a)     Membeli rumah, rumah baru, menjaga rumah, berumah, satu rumah.
Dari contoh-contoh itu dapat kita lihat bahwa satuan rumah merupakan satu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti leksikal yang sama.
b)     Menulis, ditulis, menuliskan, dituliskan, menulisi, ditulisi, tertulis, tertuliskan, tertulisi, tulisan, penulis, penulisan, karya tulis.
Dari contoh-contoh tersebut dapat kita lihat bahwa satuan tulis merupakan suatu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti leksikal yang sama.
ü  Contoh Prinsip 2 :
       Menjahit, membeli, menyalin, menggendong, mengecat dan melamar. Dari contoh-contoh tersebut nyata bahwa satuan-satuan men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me-; mempunyai arti gramatik yang sama, yaitu menyatakan tindakan aktif: tetapi struktur fonologiknya jelas jelas berbeda.
Satuan-satuan men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me- adalah alomorf dari morfem meN-; oleh karena itu semua satuan itu merupakan satu morfem.
ü  Contoh Prinsip 3:
            beralih,                        beradu
            berbaring,                    berbicara
            bersua,                        berjumpa
            bertemu,                      bekerja
            belajar,                        berjuang
            bersandar,                   beradu
Dari contoh-contoh tersebut terdapat satuan ber-, be-, dan bel-.
              Berdasarkan Prinsip 2, jelas bahwa ber-, dan be-, merupakan satu morfem, karena perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan secara fonologik. Tetapi bagaimana halnya dengan bel- yang (hanya) terdapat pada belajar? Walaupun bel- mempunyai struktur fonologik yangberbeda, dan perbedaanya itu tidak dapat dijelaskan secara fonologik, toh mempunyai arti gramatik yang sama dan mempunyai distribusi komplementer dengan morfem ber-.
                                      Dengan kata lain : bel- merupakan alomorf morfem ber-; oleh karena itu maka satuan bel- dapat dianggap sebagai satu morfem.
Perlu dicatat bahwa morfem bel- ini termasuk morfem yang produktif dalam bahasa Indonesia.
ü  Contoh Prinsip 4:
(1)           Ibu                   menggoreng                ikan.
(2)           Ibu                   menyapu                     halaman.
(3)           Ibu                   menjahit                      baju.
(4)           Ibu                   membeli                      telur.
(5)           Ibu                   minum                         teh.
(6)           Ibu                   makan                         pecal.
(7)           Ibu                   masak                         rendang.
Ketujuh kalimat di atas berstruktur S (ubjek) P (redikat) O (obyek). Predikatnya berupa kata verbal yang transitif. Yang pada kalimat (1), (2), (3), (4) ditandai oleh adanya meN-, sedangkan pada kalimat (5), (6), (7), kata verbal transitif itu ditandai dengan kekosongan atau tidak adanya meN-. Itulah yang disebut morfem zero.
ü  Contoh Prinsip 5:
a)            (1) Ia menanam kembang.
(2) Bunga itu telah kembang.
Pada (1) kembang ‘bunga’ dan pada (2) kembang ‘mekar’; oleh karena itu kedua kata kembang itu merupakan morfem yang berbeda walaupun mempunyai struktur fonologik yang sama. Kenapa? Karena arti leksikalnya beda.
b)            (1) Ayah sedang tidur.
(2) Tidur ayah sangat nyenyak.
Kata tidur pada (1) dan (2) mempunyai arti leksikal yang berhubungan, dan mempunyai distribusi Yang berbeda. Kedua kata tidur itu merupakan satu morfem.
ü  Contoh Prinsip 6:
a)            Berharap, harapan
Berharap terdiri dari ber- dan harap; serta harapan terdiri dari harap dan –an. Dengan demikian maka ber-, harap, dan –an masing-masing merupakan morfem sendiri-sendiri.
a.    Mendatangkan, didatangkan, mendatangi, pendatang, kedatangan, datang.
                        Dari contoh-contoh diatas :
Mendatangkan    terdiri dari tiga morfem yaitu meN-, datang, -kan
Didatangkan        terdiri dari tiga morfem yaitu di-, datang, -kan
Mendatangi          terdiri dari tiga morfem yaitu meN-, datang, -i
Pendatang           terdiri dari dua morfem yaitu peN-, datang
Kedatangan         terdiri dari dua morfem yaitu ke-an, datang
Maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa meN-, di-, peN-, datang, -kan, -i, dan ke-an merupakan morfem sendiri-sendiri.

3.    Proses Morfologis
a)    Pengertian Proses Morfologis
Proses Morfologis adalah peristiwa penggabungan morfem satu dengan morfem yang lain menjadi kata. Misalnya, kata menulis terdiri atas morfem {meN-} dan {tulis}. Penggabungan morfem {meN-} dan {tulis} menjadi kata menulis itulah yang disebut proses morfologis.
b)    Ciri Suatu Kata yang Mengalami Proses Morfologis
Morfem-morfem yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai tempat penggabungan dan berfungsi sebagai penggabung. Berdasarkan contoh di atas, morfem {tulis} berfungsi sebagai tempat penggabungan, sedangkan morfem (meN-} berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.
Bentuk dasar dapat berupa pokok kata dilihat dari wujudnya, bahkan berupa kelompok kata. Misalnya, bentuk dasar kata menemukan, berjuang, dan perhubungan adalah pokok kata temu, juang dan hubung.
Ciri lain bahwa suatu kata dikatakan mengalami proses morfologis ialah penggabungan atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti. Contohnya bentuk dasar cangkul setelah digabung morfem {meN-}, sehingga menjadi kata mencangkul, artinya menjadi ‘melakukan pekerjaan dengan alat cangkul’.
c)    Macam Proses Morfologis
1)    Pembentukan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar. Misalnya kata menulis dan pembangunan. Kata menulis terbentuk dari bentuk dasar tulis dan morfem imbuhan {meN-}, kata pembangunan terbentuk dari bentuk dasar bangun dan morfem imbuhan {peN-an}.


2)    Pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar.
Misalnya murid-murid, mencari-cari dan memukul-mukul yang terbentuk dari bentuk dasar murid, mencari dan memukul dengan morfem {ulang}.
3)    Pembentukan kata dengan menggabungkan dua atau lebih bentuk dasar. Misalnya meja hijau terbentuk dari bentuk dasar meja dan hijau.
C. PENJENISAN KATA
Kata ialah kumpulan daripada bunyi ujaran yang mengandung arti. Kata dinyatakan sebagai susunan huruf-huruf abjad yang mengandung arti dan sangat jelas. Contoh: ibu, mobil, ambil dan sedih.
Jenis kata ialah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi dan perilaku sintaksisnya. Dalam tatabahasa tradisional, jenis kata ini biasanya dibedakan atas sepuluh macam. Pembagian yang sepuluh ini sepenuhnya berkiblat pada pendapat Aristoteles yang berdasarkan hasil penelitiannya terhadap bahasa-bahasa Barat. Sepuluh jenis kata itu adalah:
1.    Kata Benda (Nomina)
Adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan.
Misalnya: Tuhan, angin, meja, rumah, batu, mesin dan lain-lainnya.
2.    Kata Kerja (Verba)
Adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku.
Misalnya: mengetik, mengutip, meraba, mandi, makan dan lain-lainnya.
3.    Kata Sifat (Adjektiva)
Adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan sebuah benda/sesuatu.
Misalnya: baru, tebal, tinggi, rendah, baik, buruk, mahal, dan sebagainya.
4.    Kata Ganti (Pronomina)
Adalah kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan.
Misalnya: ini, itu, ia, mereka, sesuatu, masing-masing.
5.    Kata Keterangan (Adverbia)
Adalah kata yang memberi keterangan tentang kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata bilangan, atau seluruh kalimat.
Misalnya: pelan-pelan, cepat, kemarin, tadi.
6.    Kata Bilangan (Numeralia)
Adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan atau urutan tempat nama-nama benda.
Misalnya: seribu, saratus, berdua, bertiga, bebarapa, banyak.
7.    Kata Penghubung (Konjungsi)
Adalah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat-kalimat.
Misalnya: dan, lalu, meskipun, sungguhpun, ketika, jika.
8.    Kata Depan (Preposisi)
Adalah kata yang merangkaikan kata atau bagian kalimat.
Misalnya:  di, ke, dari, daripada, kepada.
9.    Kata Sandang (Artikel)
Adalah kata yang berfungsi menentukan kata benda dan membedakan suatu kata.
Misalnya: si, sang, hyang.
10.   Kata Seru (Interjeksi)
Adalah kata (yang sebenarnya sudah menjadi kalimat) untuk mengungkapkan perasaan.
Misalnya: aduh, wah, eh, oh, astaga.

Sumber :       www.studiobelajar.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar